Dalil Al-Quran mengenai Kewafatan Nabi Isa a.s.

Ada beberapa dalil Kewafatan Nabi Isa, diantaranya adalah:

Alquran Surah Âli ‘Imrân [3]:55


إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَىٰ إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا وَجَاعِلُ الَّذِينَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ۖ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأَحْكُمُ بَيْنَكُمْ فِيمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

“Ingatlah ketika Allah berfirman, ‘Hai Isa a.s., sesungguhnya Aku akan mematikan engkau secara wajar dan akan meninggikan derajat engkau di sisi-Ku dan akan membersihkan engkau dari tuduhan orang-orang yang ingkar dan akan menjadikan orang-orang yang mengikut engkau di atas orang-orang yang ingkar hingga Hari Kiamat; kemudian kepada Aku-lah kamu kembali, lalu Aku akan menghakimi di antaramu tentang apa yang kamu perselisihkan.’”

Penjelasan:  Kata mutawaffiika berasal dari akar kata (bahasa Arab): 


تَوَفَّى
tawaffa yang berarti meninggal dunia. Sedangkan kata,


مُتَوَفَّى: قَبْضَ رُوْحَ

Kata mutawaffaa menurut Kamus Bahasa Arab berarti: Yang mati, yang wafat (atau) mencabut ruh. 

Akar kata tawaffî dan kata yang semakna dengan itu kurang lebih ditemukan sebanyak 25 kali dalam Alquran-ul-Karim. Semuanya berarti pencabutan nyawa.  

seandainya Almasih dinaikkan hidup-hidup ke langit sedangkan Muhammad Rasulullah saw. dikuburkan di dalam tanah maka [na’ûdzubillah] gugurlah I’tikad bahwasannya Rasulullah saw adalah penghulu para nabi, Nabi yang paling mulia, rahmat bagi alam semesta. Kehormatan beliau sebagai khâtaman Nabiyyîn/nabi termulia menjadi [na’ûdzubillah] tercoreng, bahkan menjadi batal karena ada yang derajatnya lebih tinggi dari beliau saw.

Alquran Surah Âli ‘Imrân [3]:144


وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ انقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَن يَنقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَن يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا ۗ وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

“Dan Muhammad tidak lain melainkan seorang rasul. Sesungguhnya telah berlalu rasul-rasul sebelumnya. Jadi, jika ia mati atau terbunuh, akan berpalingkah kamu atas tumitmu? Dan barangsiapa berpaling atas tumitnya, maka ia tidak akan memudharatkan Allah sedikitpun. Dan, Allah pasti akan memberi ganjaran kepada orang-orang yang bersyukur.”

Berkenaan dengan ayat ini, tertera satu tarikh Islam, dijelaskan bahwa ketika Rasulullah saw. wafat, Hadhrat Umar r.a. ada di mesjid, tetapi telah kehilangan asa dan kesadaran karena sedih. Kemarahan timbul jika didengarnya seseorang berkata bahwa Rasulullah s.a.w. telah wafat. Ia menghunus pedangnya dan mengancam akan membunuh orang yang berani mengatakan bahwa Rasulullah s.a.w. telah wafat sambil berkata, 

“Siapa mengatakan bahwa Rasulullah telah wafat, ia sendiri akan mati di tangan Umar.”

Para sahabat salah tingkah dan mereka agak setengah percaya akan perkataan-perkataan Umar. “Rasulullah saw. tak mungkin wafat. Itu suatu kekeliruan”, ungkap Umar r.a.. Pada waktu itu pula, beberapa sahabat mencari Abu Bakar, menjumpainya dan menceritakan apa yang telah terjadi. Lalu Abu Bakar langsung masuk ke dalam mesjid Medinah. Tanpa sepatah kata pun beliau masuk ke kamar Siti Aisyah dan bertanya, “Apakah Rasulullah s.a.w. telah wafat?” “Benar,” jawab Siti Aisyah. Maka Abu Bakar langsung pergi ke tempat Rasulullah s.a.w. terbujur, dibukanya penutup wajah beliau, membungkuk dan mengecup dahi beliau. Air mata kasih dan kesedihan menetes dari matanya dan ia berkata, “Demi Allah. Kematian tidak akan datang kepada anda dua kali.” Lalu keluar membacakan ayat di atas. (Surah Âli ‘Imrân [3]:144) di hadapan para sahabat.

Lalu Abu Bakar r.a. bersabda: “Siapa dari antara kamu yang menyembah Tuhan, mereka hendaknya tahu bahwa Tuhan masih hidup dan akan hidup untuk selama-lamanya. Tetapi mereka yang menyembah Muhammad, mereka harus tahu dari aku bahwa Muhammad telah wafat.”

Setelah mendengarkan pernyataan itu, para sahabat menemukan kembali keseimbangan rasa dan pikiran mereka karena pidato yang tepat pada waktunya itu, mata rohani Umar pun terbuka lebar kembali. Ia mengerti bahwa Rasulullah saw. telah wafat. Tetapi, begitu kesadarannya timbul, kakinya mulai gemetar lalu ia rebah. Ia jatuh tak berdaya. Para Sahabat merasakan seolah-olah ayat itu baru diturunkan untuk pertama kali pada hari itu.

Jadi jika pada waktu itu ada kepercayaan bahwa Nabi Isa a.s. masih hidup di langit, setidaknya ada satu atau beberapa sahabat yang “menginterupsi” khutbah Abu Bakar r.a., termasuk Umar bin Khotob. Jadi hal ini adalah satu ijma’ sahabat bahwa kata kholat dalam ayat tersebut (Surah Âli ‘Imrân [3]:144) berarti mati.

Alquran Surah Âli ‘Imrân [3]:185


كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”

Jadi Nabi Isa a.s. yang termasuk seorang rasul itu hayalah manusia biasa. Oleh karena itu beliau a.s. merasakan kematian layaknya manusia biasa.

Alquran Surah Al Maidah [5]:75


مَّا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ ۖ كَانَا يَأْكُلَانِ الطَّعَامَ ۗ انظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ الْآيَاتِ ثُمَّ انظُرْ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ

“Al-Masih ibnu Maryam itu tidak lain melainkan seorang rasul; sesungguhnya telah wafat rasul-rasul sebelumnya. Dan ibunya adalah seorang yang benar. Keduanya dahulu makan makanan. Perhatikanlah, betapa Kami menjelaskan Tanda-tanda bagi mereka, kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling.”

Penjelasan ini sama seperti penjelasan Surah Âli ‘Imrân [3]:144 diatas.

Alquran Surah Al Maidah [5] 117


مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ ۚ وَكُنتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَّا دُمْتُ فِيهِمْ ۖ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنتَ أَنتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ ۚ وَأَنتَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

“Tidak pernah aku mengatakan kepada mereka selain apa yang telah Engkau perintahkan kepadaku, yaitu, ‘beribadahlah kepada Allah, Tuhan-ku dan Tuhan-mu. Dan aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada diantara mereka akan tetapi setelah Engkau mewafatkan aku, maka Engkau-lah Yang menjadi Pengawas atas mereka dan Engkau adalah Saksi atas segala sesuatu;’”

Dari ayat di atas, bisa diambil beberapa poin, antara lain:

a) Tuhan telah mewafatkan nabi Isa a.s. (توفّيتني) sesuai ayat Surah Âli ‘Imrân [3]:55.

b) Dahulu Nabi Isa a.s menjadi saksi atas Bani Israil selama beliau a.s. berada diantara mereka. Karena beliau telah wafat, maka kini Tuhanlah yang menjadi pengawas atas mereka.

c) Seandainya sampai sekarang Nabi Isa a.s. masih hidup dan memimpin umat Kristen, maka orang-orang Kristen seharusnya menyembah Allah swt karena beliau bersabda: “beribadahlah kepada Allah, Tuhan-ku dan Tuhan-mu” atau dengan kata lain, Yesus hanya mengajarkan Tauhid (Matius 4:101 dan Lukas 4:82), bukan untuk menyembah dirinya.

d) Dan sekiranya Nabi Isa a.s. masih memimpin kaumnya (umat Kristen), maka –na’ûdzubillah- beliau telah berdusta. Karena tidak mungkin beliau membiarkan umatnya sesat padahal beliau ada diantara mereka. Dalam ayat tersebut juga dikatakan bahwa kini Allah-lah sebagai pengawas atas mereka, bukan beliau lagi.

Seandainya Nabi Isa a.s. masih hidup di langit, maka Rasulullah saw. yang dianggap sebagai Nabi yang paling mulia itu seharusnya hidup bersama beliau di langit. Namun karena Nabi yang paling mulia itu telah wafat, dan dikuburkan di bumi, mau-tidak-mau, tidak ada Nabi lain yang masih hidup, bahkan di langit hingga kini. Oleh karena itu demi menjaga kemuliaan beliau saw., maka sudah seharusnya lah kita mengatakan bahwa Nabi Isa a.s. memang telah wafat dan dikuburkan di bumi ini.

kepercayaan Masih hidupnya Nabi Isa a.s. adalah kepercayaan umat Kristiani.

Alquran Surah Al A’râf [7]:24-25


قَالَ اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَىٰ حِينٍ * قَالَ فِيهَا تَحْيَوْنَ وَفِيهَا تَمُوتُونَ وَمِنْهَا تُخْرَجُونَ

“Tuhan berfirman, ‘Pergilah kamu sekalian dari sini, sebagian kamu adalah musuh bagi sebagian lain. Dan bagimu di bumi ini terdapat tempat kediaman dan bekal hidup sampai masa tertentu’ * Dia berfirman, ‘di situlah kamu sekalian akan hidup dan di situlah kamu akan mati, dan darinya kamu akan dikeluarkan.’”

Konteks ayat ini adalah perintah kepada Nabi Adam a.s. Ini menunjukkan bahwa tidak adanya manusia yang dapat naik ke langit dengan tubuh kasarnya, dan tinggal di sana. Dengan kata lain, Nabi Adam dan Ibnu adam (manusia) harus hidup dan mati di bumi ini juga, termasuk Nabi Isa a.s.

Jadi, Bumi merupakan satu tempat yang paling cocok bagi manusia [diantara tempat-tempat lain di jagat raya] untuk hidup. Tidak ada tempat lain yang cocok bagi nabi Isa a.s. untuk hidup dan mati, kecuali di bumi ini.

Alquran Surah Maryam [19]: 31


وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا

“Dan Dia telah menjadikan-ku diberkati di mana pun aku berada, dan telah memerintahkan kepadaku shalat dan zakat selama aku hidup

Jadi apabila Nabi Isa a.s. masih hidup hingga kini, beliau a.s. harus melakukan shalat dan zakat. Permasalahannya, apakah kita pernah mendengar khabar berita mengenai pembayaran zakat beliau a.s.? Jika benar beliau a.s. adalah seorang yang benar dan dikenal orang, kenapa tidak ada satu media pun saat ini yang mendapatkan khabar tersebut?

Alquran Surah Maryam [19]: 33


وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدتُّ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا

“Dan selamat-sejahtera atasku pada hari aku dilahirkan, dan pada hari aku wafat, dan pada hari aku akan dibangkitkan hidup.”

Disini jelas bahwa Nabi Isa wafat. Tidak hidup di langit. Jadi kepercayaan mengenai masih hidupnya Nabi Isa a.s. dengan jasad kasarnya, ditolak mentah-mentah oleh ayat ini.

Alquran Surah Al Anbiyâ [21]:8


وَمَا جَعَلْنَاهُمْ جَسَدًا لَّا يَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَمَا كَانُوا خَالِدِينَ

“Dan tidak Kami jadikan mereka jasad yang tidak makan makanan dan tidak mereka hidup kekal

Ayat ini menyatakan secara jelas bahwa semua manusia mengalami kematian, termasuk Rasulullah saw. ataupun Nabi Isa a.s.

Alquran Surah Al Anbiyâ [21]:34


وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِّن قَبْلِكَ الْخُلْدَ ۖ أَفَإِن مِّتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ

“Dan Kami tidak pernah menjadikan seorang manusia sebelum engkau hidup kekal. Maka jika engkau mati, apakah mereka akan hidup kekal?”

Sudah sangat jelas bahwa semua manusia, termasuk para Nabi, termasuk Nabi Isa a.s. pasti wafat. Karena tidak pengecualian untuk Nabi Isa a.s.

Alquran Surah Al-Mu’minûn [23]:99-100:


حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ * لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا ۖ وَمِن وَرَائِهِم بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“Hingga, apabila maut datang kepada salah seorang dari mereka, ia berkata: ‘Ya Tuhan-ku, kembalikanlah aku, * Supaya aku dapat mengerjakan amal shaleh yang telah kutinggalkan,’ sekali-kali tidak! Sesungguhnya ini hanya perkataan yang ia ucapkan. Dan di belakang mereka ada dinding penghalang hingga hari mereka dibangkitkan.”

Dalam ayat tersebut menjelaskan bahwa tidak ada seseorang yang sudah mati bisa hidup kembali. kalaupun Nabi isa a.s. dimatikan dahulu kemudian dibangkitkan kembali, maka --na'uudzubullah-- Allah Ta'ala melanggar ketentuan ini.

Jadi, Nabi isa a.s. sudah seharusnya wafat dan tidak bangkit kembali. yang dibangkitkan adalah dari antara umat Rasulullah saw yang diberi sifat seperti Nabi Isa a.s.

Alquran Surah Yâsin [36]:68


وَمَن نُّعَمِّرْهُ نُنَكِّسْهُ فِي الْخَلْقِ ۖ أَفَلَا يَعْقِلُونَ

“Dan Barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan Dia kepada kejadian(nya). Maka apakah mereka tidak memikirkan?”

Kalaupun Nabi Isa a.s.  umurnya ribuan tahun, maka --sesuai ayat ini-- Nabi Isa a.s. pasti sudah tidak mempunyai daya apa-apa.

-- o0o --

Keterangan:
  • Ayat Alquran yang dikutip adalah sesuai dengan Mushaf Usmani.
  • Arti ayat dikutip dari Alquran dengan Terjemahan dan Tafsir Singkat terbitan Jemaat Ahmadiyah Indonesia

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ulama Pewaris Nabi dan Ulama Seburuk-buruk Makhluk

Mi'raj dan Isra

Cara Memelihara Hamster