Waqf-e-Zindegi Bagian 2

Hadhrat masih Mau'ud a.s. bersabda,

Ringkasnya adalah penting bagi manusia supaya mewakafkan hidupnya di jalan Allah Ta'ala. Saya membaca di beberapa surat kabar bahwa orang-orang Arya (satu sekte Hindu -- pen) tertentu telah mewakafkan hidup mereka untuk (gerakan) Arya Samaj dan beberapa pendeta telah mewakafkan hidup mereka untuk Missi (Kristen). Saya heran mengapa orang-orang Islam tidak mau mewakafkan hidup mereka di jalan Allah dan untuk mengkhidmati Islam? Coba perhatikan masa Rasulullah saw yang penuh berkat, maka mereka akan mengetahui bahwa (dahulu para sahabat) telah mewakafkan hidup mereka untuk kehidupan Islam.

kalian harus ingat, ini bukanlah jual beli yang merugi. Justru ini merupakan jual-beli yang memberi keuntungan tak terhingga. Seandainya orang-orang Islam mengetahui dan sadar akan kepentingan jual-beli ini, yang mewakafkan hidup mereka untuk Allahdan demi agama-Nya, apakah berarti mereka telah rugi kehilangan hidup mereka? Tidak, sama sekali tidak.

بَلَىٰ مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِندَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

(Artinya: Mengapa tidak, barangsiapa menyerahkan dirinya kepada Allah dan ia berbuat kebaikan maka bagi dia ada ganjarannya di sisi Tuhan-nya. Dan tak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih. QS Al-Baqarah [2]: 113) 

Ganjaran lillahi waqaf  (Wakaf untuk Allah --pen) akan diberikan sendiri oleh Rabb mereka. wakaf ini akan memberikan kebebasan dan keselamatan dari segala macam duka-nestapa.

Saya mereasa heran, padahal secara alamiah manusia menginginkan ketentraman dan ketenangan, serta ingin melepaskan dari duka dan nestapa dan kerisauan. lalu apa sebabnya mereka tidak memberikan perhatian sedikitpun apabila mereka disodorkan resep mujarab. Tidakkah resep lillahi wakaf ini telah terbukti mujarab sejak 1300 tahun lalu? Tidakkah para sahabar r.a. akibat wakaf ini telah menjadi pewaris hayyatun thoyyibatun (kehidupan yang baik --pen) dan telah memperoleh kehidupan abadi? lalu apa sebabnya kini mereka enggan mengambil manfaat dari pengaruh resep ini.

Masalahnya adalah, orang-orang  tidak tahu akan hakikat atau rahasia ini dan tidak mengenali kelezatan yang diperoleh setelah wakaf tersebut. Semata-mata karena mereka tidak tahu saja. Sebab, jika tidak, seandainya mereka memperoleh sekerat saja dari kelezatan dan kenikmatan ini, tentu saja mereka akan berbondong-bondong datang ke arena (waqaf) ini dengan keinginan-keinginan yang tak terhingga.

Saya sendiri telah mengalami jalan ini. Dan semata-mata karena karunia serta berkat Allah Ta'ala saya telah menikmati ketentraman dan kelezatan ini. Saya berkehendak, jika untuk mewakafkan di jalan Allah Ta'ala itu saya harus mati dahulu baru kemudian hidup, dan kemudian mati lagi lalu hidup kembali, maka setiap kalai kesukaan saya semakin meningkat dengan suatu kelezatan (baru).

Oleh sebab itu dikarenakan saya sendiri berpengalaman dalam hal ini, dan memang saya sudah mengalaminya, dan Allah Ta'ala telah menganugerahkan semangat demikian rupa kepada saya untuk wakaf ini sehingga jikapun dikatakan kepada saya bahwa di dalam wakaf ini tidak ada pahala dan manfaatnya, melainkan yang ada hanyalah kesusahana dan kedukaan belaka, tetap saja saya tidak akan dapat menahan diri saya untuk mengkhidmati Islam. Maka saya menganggap hal ini sebagai kewajiban bagi saya untuk mewasiyatkan atau menasehatkannya kepada Jemaat saya dan menyampaikan perkara tersebut. Selanjutnya adaah ikhtiar setiap orang untuk mendengarkanya atau tidak. Yakni apabila ada yang menginginkan najat (keselamatan) dan menghendaki hayyatun-thoyyibatun serta kehidupan abadi, maka dia hendaknya mewakafkan hidupnya untuk Allah. Dan dia senantiasa harus berusaha serta memikirkan bagaimana mencapai derajat itu, sehingga dia dapat mengatakan, bahwa,

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ 

"Katakanlah, Hidupku, matiku pengorbanan-pengorbananku, hidupku, matiku hanyalah untuk Allah, Robb semesta alam" (QS Al-An'aam [6]:163)

Dan seperti halnya Nabi Ibrahim a.s; ruhnya akan bangkit dan berkata,

قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ
(Artinya: "Ia [Ibrahim a.s.] berkata, Aku telah berserah diri kepada Tuhan semesta alam." [QS Albaqarah {2}: 132])

Selama manusia belum tenggelam dalam Allah; belum mati di dalam Allah; dia tidak akan dapat menemukan kehidupan baru.

Jadi kalian yang memiliki hubungan dengan saya, kalian menyaksikan bahwa dengan mewakafkan hidup untuk Allah, saya menganggap sebagai tujuan sebenarnya hidup saya. Lalu lihatlah dalam diri kalian sendiri, berapa diantara kalian yang memilih cara saya inisebagai pilihan bagi dirinya dan yang memuliakan sikap mewakafkan hidup untuk Allah (ini).

Keterangan:
  • Ditulis 3/Ags/1900
  • Alhakam, No. 31, Jilid IV, hlm 3
  • Malfuzhat, Add. Nazir Isyaat, London, 1984, Jilid II, hlm. 98-100
  • Diterjemahkan oleh Muhlis Ilyas 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ulama Pewaris Nabi dan Ulama Seburuk-buruk Makhluk

Cara Memelihara Hamster

Mi'raj dan Isra