Waqf-e-Zindegi Bagian 3

Hadhrat Masih Mau'ud a.s. bersabda,

Bagi orang muttaqi, Allah Ta'ala sendiri yang membukakan berbagai macam jalan. Dia memperoleh rejeki dari tempat yang tidak dapat diketahui orang lain. Allah Ta'ala sendiri yang menjadi wali (sahabat sejati) dan murabbi (pembimbing dan pengawas) baginya. Dan mengorbankan jiwa mereka di jalan Allah (serta) membelanjakan harta mereka di jalan-Nya, mereka anggap sebagai (karunia) dan keberuntungan bagi mereka. Akan tetapi orang-orang yang telah menjadikan harta kekayaan duniawi sebagai tujuan (hidup) mereka, mereka hanya memandang agama dengan pandangan mimpi. Akan tetapi itubukanlah pekerjaan Mukmin sejati dan Muslim hakiki. Islam sejati ialah, seseorang mewakafkan seluruh kemampuan dan kekuatannya di jalan Allah Ta'ala hingga akhir hayat sehingga dia mewarisi hayyatun thoyyibatun (kehidupan yang baik --pen). Demikianlah bahwa Allah Ta'ala sendiri yang menghimbau ke arah lillahi wakaf ini:

بَلَىٰ مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِندَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

(Artinya: Mengapa tidak, barangsiapa menyerahkan dirinya kepada Allah dan ia berbuat kebaikan maka bagi dia ada ganjarannya di sisi Tuhan-nya. Dan tak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih. QS Al-Baqarah [2]: 113)

Disini, yang dimaksud dengan aslama wajhahu lillaahi adalah mengenakan pakaian yang hina dina, lalu merebahkan diri di singgasana Ilahi dan mewakafkan semata-mata untuk Allah, (baik itu) nyawa, harta, kehormatan dan apa saja yang dimilikinya serta menjadikan dunia & seluruh benda-benda dunia menjadi khadim agama.

Jangan pula ada yang memahaminya bahwa manusia tidak boleh menyimpan (harta-benda) dan mempunyai hubungan dengan dunia. Tidak demikian yang saya maksudkan. Allah Tidak melarang (kita) meraih dunia. Justru Islam melarang rahbaniyat. Itu adalah pekerjaan orang-orang penakut. Seberapa luas hubungan orang Mukmin dengan dunia, hal itu dapat membuatnya (mencapai) derajat-derajat mulia. Sebab tujuan utamanya adalah agama. Dan dunia, serta harta kekayaannya merupakan khadim (pembantu) bagi agama. Jadi perkara yang sebenarnya adalah jangan jadikan dunia sebagai tujuan hidup. Justru dalam meraih dunia ini, tujuan sebenarnya haruslah agama. Dan raihlah dunia sedemikian rupa sehingga ia menjadi khadim (pembantu) bagi agama. Seperti halnya seseorang yang menempuh perjalanan dari satu tempat ke tempat tertentu, dia menggunakan kendaraan dan perbekalan. Nah, tujuan sebenarnya adalah mencapat tempat tujuan, bukan kendaraan atau bekal-bekal perjalanan (itu). Demikian pulalah seorang manusia hendaknya meraih dunia, tetapi denan menyadari atau menganggapnya sebagai khadim atau penunjang agama.

Di dalam doa yang telah diajarkan Allah Ta'ala pun yang pertama-tama diutarakan adalah dunia:

ـ..رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً..ـ

(Artinya, "...Ya Tuhan kami, berilah kami segala yang baik di dunia dan segala yang baik di akhirat..." - QS. Al-Baqarah [2]: 202)

Akan tetapi dunia yang mana? (yaitu) hasanah dunia yang dapat menimbulkan hasanah-hasanah akhirat. Dari pelajaran doa ini dengan jelas dapat dimengerti bahwa dalam meraih dunia, yang diperhitungkan oleh orang Mukmin itu adalah hasanah-hasanah akhirat. Da bersamaan dengan itu, dalam kata hasanah dunia telah tercakup seluruh sarana terbaik untuk meraih dunia, yang perlu dimanfaatkan oleh seorang Muslim/Mukmin guna mendapatkan dunia. Raihlah dunia itu dengan segala macam cara yang darinya timbul kebaikan dan hasanah. jangan pula menerapkan cara-cara yang mengakibatkan penderitaan bagi umat manusia lainnya dan menyebabkan timbulnya keburukan atau kehinaan diantara sesama (manusia). Dunia yang demikian tidak diragukan lagi merupakan penyebab timbulnya hasanah akhirat (kebaikan di akhirat).

Jadi ingatlah, seseorang yang mewakafkan hidupnya untuk Allah, tidak pula dia menjadi pasif tanpa daya. Tidak, sama sekali tidak. Justru agama dan lillahi wakaf itu menjadikan manusia cerdas dan tangkas. Sikap malas dan lamban tidak akan mendekatinya. Di dalam hadits ada sebuah riwayat:

وعن عمارة بن خزيمة بن ثابت قال : سمعت عمر بن الخطاب يقول لأبي : أعزم عليك أن تغرس أرضك فقال أبي : أنا شيخ كبير أموت غدا . فقال عمر : أعزم عليك لتغرسنها ، فلقد رأيت عمر بن الخطاب ضي الله عنه يغرسها بيده مع أبي ــــ انظر السلسلة الصحيحة (١/١/٣٩)ـ

“Aku pernah mendengarkan Umar bin Khoththob berkata kepada bapakku, “Apa yang menghalangi dirimu untuk menanami tanahmu?” Bapakku berkata kepada beliau, “Aku adalah orang yang sudah tua, akan mati besok.” Umar berkata kepadanya, “Aku mengharuskan engkau (menanamnya). Engkau harus menanamnya!” Sungguh aku melihat Umar bin Khoththob menanamnya dengan tangannya bersama bapakku.” [HR. Ibnu Jarir Ath-Thobariy sebagaimana dalam Ash-Shohihah (1/1/39)]

Nah, saya katakan sekali lagi, janganlah kalian menjadi orang-orang yang malas. Allah Ta'ala tidak melarang (kita) meraih dunia. Justru dia sendiri yang mengajarkan doa (untuk meraih) hasanah dunia. Allah Ta'ala tidak menghendaki agar manusia menjadi pasif dan duduk saja tanpa guna. Justru Dia dengan jelas berfirman,

وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
(Artinya, "Manusia tidak akan memperoleh sesuatu selain dari apa yang ia usahakan" - An Najm [53]: 40)

Oleh karena itu seorang Mukmin hendaknya selalu bekerja keras dan giat. Akan tetapi, beberapa kali pun saya tetap mengatakan bahwa janganlah kalian menjadikan dunia sebagai tujuan hidup kalian. Jadikan diin (agama) sebagai tujuan hidup kalian dan jadikanlah dunia sebagai khadim dan sarana baginya. Kadang-kadang ada tugas-tugas yang dilakukan oleh para orang kaya yang mana tugas-tugas itu tidak dapat dilakukan oleh orang-orang fakir dan miskin. Di masa Rasulullah saw, khalifah Awwal r.a. (Hadhrat Abu bakar r.a. --pen) yang merupakan saudagar besar, dan setelah masuk Islam telah memberikan bantuan yang tidak ada bandingannya dan beliau memperoleh derajat disebut shiddiq dan beliau menjadi sahabat pertama serta menjadi Khalifah pertama.

Keterangan:
  • Al-Hakam, Jilid IV, No. 29, halaman 3-4
  • Ditulis: 16/Ags/1900
  • Malfuzhat, Add. Nazir Isyaat, London, 1984, Jilid II, hlm. 90-92
  • Penterjemah: Muhklis Ilyas

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ulama Pewaris Nabi dan Ulama Seburuk-buruk Makhluk

Cara Memelihara Hamster

Mi'raj dan Isra